Pondok pesantren yang satu ini terletak di kawasan padat penduduk di Kota Semarang. Lokasi yang bersebelahan dengan sebuah kampus perguruan tinggi berkultur NU ini membuat pondok semakin dekat dengan warga sekitar. Pondok tersebut adalah Pondok Pesantren Luhur Wahid Hasyim (PPLWH) namanya.
Pondok pesantren yang mengambil nama salah satu tokoh kebanggaan Nahdlatul Ulama ini memang milik Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) sesuai namanya. Berada di Jalan Menoreh Tengah, Kelurahan Sampangan Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang, ponpes ini berdiri tahun 2000 seiring dengan berdirinya Kampus Unwahas.
Santri yang menuntut ilmu di pondok ini kesemuanya adalah mahasiswa Unwahas dari berbagai jurusan. Menurut pengasuh PPLWH, KH. Muh. Syaifudin, santrinya bukan hanya berasal dari jurusan di Fakultas Agama Islam saja, namun ada jurusan farmasi, teknik informatika, teknik mesin serta jurusan yang lain. Kegiatan mengaji kitab dilakukan pagi dan sore hingga malam, karena siang hari para santri memang kuliah di kampus.
“Biasanya kegiatan mengaji diselenggarakan setelah subuh, menjelang maghrib sampai malam hari,” ujar Kyai Syaifudin yang mengambil gelar master dan doktor tafsir serta ilmu-ilmu Al-Quran dari Universitas Al-Azhar Kairo Mesir ini saat dihubungi Jumat (15/5).
Kitab Tafsir Jalalain, Kitab Al-Hikam Ibnu Athoillah dan kitab-kitab kuning lainnya menjadi kajian wajib di pondok pesantren ini. Kegiatan setoran hafalan Al-Quran juga bagian dari kegiatan bagi santri yang tahfidz.
Saat pandemi Covid-19 karena kegiatan di dalam kampus diliburkan, kegiatan mengaji dilakukan dengan cara daring melalui media sosial. Jadwal mengaji selama Ramadhan adalah kajian kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Ghozali di sesi siang dan Kitab Tanwirul Qulub karya Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi di sesi sore jelang buka puasa.
Menurut kyai yang juga Kepala Unwahas Aswaja Center ini, wabah virus Corona yang sedang melanda dunia, bagi umat muslim adalah bagian dari sebuah ujian.
“Ujian yang ditimpakan oleh Allah kepada kita, ada kalanya supaya kita banyak berdoa, ada kalanya supaya kita merevolusi diri, dan ada kalanya juga agar kita pasrah tawakkal kepada-Nya,” tutur dosen Unwahas yang pernah nyantri di Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta selama puluhan tahun ini.
“Pandemi Covid-19 adalah salah satu cara Allah supaya kita pasrah dan tawakkal kepada-Nya, dan kita harus yakin adanya kebaikan-kebaikan yang akan diberikan kepada kita dan alam raya,” jelasnya sambil mengutip sebuah ayat berisikan tentang apa yang menimpa manusia adalah sudah ditetapkan oleh Allah.
Salah satu santri PPLWH, Satiya Mugiono, selama pandemi dan Ramadhan ini, para santri pulang ke kampung masing-masing sesuai kebijakan kampus. Namun ada beberapa santri yang tidak bisa pulang kampung karena penerbangan pesawat ke luar Jawa untuk sementara ditiadakan demi mengurangi penyebaran virus.
“Beberapa teman kami yang dari Sumatra dan Kalimantan tidak bisa pulang kampung berlebaran,” ucap lurah pondok santri putra ini.
Lebih lanjut mahasiswa Teknik Mesin ini mengatakan bahwa ada dua puluh orang santri putra dan delapan orang putri yang tinggal di pondok hingga saat ini. Dilihat dari database pondok, jumlah total santri saat ini ada 440 orang yang terdiri dari santri putra 198 orang dan santri putri 242 orang.
Meskipun ada yang masih tinggal di pondok, protokol kesehatan tetap dijalankan. Keharusan mencuci tangan sebelum masuk pondok, penggunaan masker, serta menjaga jarak adalah hal yang wajib dilakukan. Area seputar kampus dan pondok juga telah disemprot cairan desinfektan, pungkasnya. [IS-Humas]