Tim Pkm Unwahas Lakukan Penelitian Mengenai Sister Province Jateng-Fujian Di Tengah Perang Dagang As-China

Semarang- Mahasiswa Hubungan Internasional (HI) Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) mendapatkan kesempatan untuk melakukan penelitian di Biro Otda Jawa Tengah untuk menganalisis kerjasama Sister Province antara Jawa Tengah-Fujian sebelum dan sesudah adanya perang dagang AS dengan China. Perang dagang adalah di berlakukannya tarif bea masuk dari suatu neagra yang di anggap rival, bermulai setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pada 22 Maret 2018, berkehendak mengenakan bea masuk sebesar US$50 miliar untuk barang-barang China di bawah Pasal 301 Undang-Undang Amerika Serikat Tahun 1974 tentang Perdagangan.

Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) di selenggarakan setiap tahun oleh kemenristekdikti untuk mengasah kreativitas, mengasah menulis dan menyampaikan serta menuangkan ide-ide kreatif selama masa kuliah, untuk mendapatkan pengalaman, mendapat pengakuan, dan mampu mengembangkan indonesia melalui pemikiran kreatif mahasiswa. Dari ke 7 bidang kegiatan yang di lombakan, Tim PKM Unwahas lolos pendanaan PKM Sosial Humaniora yakni 1 anggota Tim berisi 3 orang, Neili Hidayatul Khusniah sebagai ketua, Rini Widya Susanti Anggota 1, Ela Nuraeni anggota 2 berdasarkan Bimbingan dari Dr. Ismiyatun,. M,Si dengan judul “Evektifitas Implementasi Kerjasama Sister Province Antara Jawa Tengah Dengan Fujian Di Tengah Perang Dagang Amerika Serikat-China”. Salah satu staff Biro Pemerintah Otda dan Kerjasama Dwi Sri Rahayu menjelaskan bahwa MoU pertama kerjasama Sister Province Jawa Tengah Dengan Fujian ditandatangani pada tahun 2003 yang lalu.

Bu Rahayu menambahkan, bahwasannya kerjasama Sister Province ini di lakukan secara bussiness to bussiness antar pelaku usaha yakni Jawa Tengah dan Fujian. Pemerintah Jawa Tengah hanya sebagai fasilitator untuk menjembatani kerjasama yang telah berlangsung 17 tahun ini. Sister provine adalah kerjasama kota kembar untuk meningkatkan hubungan bilateral antara ke dua negara untuk menjaga keharmonisan yang telah terbagun sejak pemerintahan Gusdur 1998 lalu. Melalui hubungan baik inilah, kota kembar (sister provice) Jawa Tengah – Fujian yang banyak memiliki kemiripan yakni salah satunya adalah sumber daya alamnya, dan history penduduk keturunan Fujian yang ber migran di Jawa Tengah khususnya kota semarang. Berdasarkan saran dan rekomendasi dari Gus Dur dan Kementrian Luar Negeri, pada 2003 Memorandum of Understanding (MoU) Kerjasama Sister Province Jawa Tengah dengan Fujian ditanda tangani oleh Mardiyanto (Gubernur Jawa Tengah) dengan Wang Meixiang (Gubernur Fujian). Kemudian Pembaruan MoU ke-2 ditandatangani oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Fujian Su Shulin melalui desk to desk pada 11 Januari di Fujian dan 18 Februari tahun 2014 di Semarang.

Sementara itu, dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah khususnya Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri menjelaskan “kerjasama Sister Province Jateng-Fujian berjalan secara business to business atau people to people, dimana Disperindag berperan sebagai mediator pertemuan antara pengusaha Jawa Tengah-Fujian maupun sebaliknya”. Adanya perang dagang AS-China cukup berpengaruh terhadap neraca perdagangan Jawa Tengah-China, hal ini ditunjukkan dari data melonjaknya impor dari China sebesar 56% dan ekspor dari Jawa Tengah ke China sebesar 1,4%. Namun sejauh ini adanya perang dagang AS-China justru meningkatkan intensitas pertemuan para pihak dalam mendalamai dan menindak lanjuti potensi usaha di Jawa Tengah yang secara tidak langsung meningkatkan Investasi China khususnya Fujian di Jawa Tengah.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »