UNWAHAS – Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan semakin gencar dilakukan. Salah satu upaya itu adalah bagaimana meningkatkan kecerdasan para peserta didik di semua tingkat pendidikan termasuk taman kanak-kanak (TK).
Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) melalui program pengabdian kepada masyarakat meyelenggarakan kegiatan sosialisasi mainan mekanikal edukatif bagi guru TK Pelangi Nusantara, Semarang pada Sabtu, 20 November 2021.
Menurut ketua tim pengabdian masyarakat, Imam Syafa’at, selama ini permainan yang dipakai cenderung konvensional seperti menempel kolase serta permainan menyusun balok. Untuk meningkatkan kecerdasan visual-spasial bagi siswa TK, Unwahas menciptakan puzzle marble machine atau mesin teka-teki kelereng. Mesin yang didesain oleh Gilar Annanto dosen Teknik Mesin Unwahas ini prinsipnya merangkai komponen-komponen puzzle membentuk mesin yang bisa menggerakkan kelereng secara simultan.
Mesin ini menggunakan prinsip gerakan cam sebagaimana komponen piston pada kendaraan bermotor. Komponen-komponen mainan ini dibuat dengan teknologi printer 3D di laboratorium Perancangan Unwahas. “Prinsip gerakan piston kami adopsi untuk menggerakkan kelereng secara simultan,” tutur Gilar Annanto.
Rangkaian kegiatan sosialisasi mainan mekanikal edukatif ini di gelar di TK Pelangi Nusantara. Kegiatan diawali dengan paparan kecerdasan visual-spasial bagi guru TK Pelangi Nusantara oleh Linda Indiyarti dosen jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Unwahas. Materi tentang dasar-dasar elemen mesin yang dipakai dalam puzzle ini juga dijelaskan di hadapan para guru TK. Kegiatan ini diakhiri dengan serah terima alat dari ketua tim pengabdian kepada Kepala TK Pelangi Nusantara, Nurun Nikmah.
Menanggapi inovasi mainan mekanikal edukatif ini, wakil rektor bidang riset, teknologi dan inovasi Unwahas Dr. Helmy Purwanto mengatakan bahwa Unwahas memang menyediakan pendanaan hibah pengabdian dan penelitian melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat setiap tahunnya.
Saat ini Unwahas juga memfasilitasi pendaftaran beberapa hasil inovasi lewat Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) Kementerian Hukum dan HAM, termasuk mainan edukatif ini. “Unwahas memfasilitasi pendaftaran beberapa hasil inovasi dosen lewat pengajuan Hak atas Kekayaan Intelektual ke Ditjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM,” tegas Helmy Purwanto.
Dengan HKI ini perlindungan hasil karya dosen akan terhindar dari pencurian karya alias plagiarisme. Dismping itu, penghargaan HaKI ini juga bertujuan untuk mendorong dan menumbuhkembangkan semangat terus berkarya dan mencipta bagi dosen. (tim)